Ketika kita mendengar nama Ki Hajar Dewantara, pasti kita secara tidak langsung akan semboyan yang terkenal dengan istilah Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso Tut Wuri Handayani dan pendiri salah satu lembaga pendidikan pada zaman dulu yaitu Taman Siswa di Jogjakarta. Ing Ngarso Sung Tulodho artinya di depan memberi teladan, Ing Madyo Mangun Karso artinya di tengah memberikan semangat dan Tut Wuri Handayani artinya di belakang memberikan suatu dorongan.
Semboyan tersebut sudah saya kenal sejak kecil dan saya tahu ungkapan Ki Hajar Dewantara di atas namun saya belum dapat menerapkannya dalam peran saya saat ini yaitu sebagai guru. Berdasarkan pengalaman saya belajar tentang Pemikiran KHD dalam modul 1.1 Program Guru Penggerak (PGP), saya masih beranggapan antara lain : Pertama, memandang anak-anak sebagai gelas dan kertas kosong. Untuk diketahui bahwa saya adalah seorang guru Matematika di salah satu sekolah negeri di Demak. Menurut saya, mata pelajaran Matematika termasuk dalam pelajaran yang sulit bagi siswa saat ini. Atas dasar ini, saya meyakini bahwa siswa pasti susah untuk memahami pelajaran Matematika. Sehingga saya biasanya menganggap bahwa siswa seperti gelas kosong yang wajib saya isi dengan materi-materi pengetahuan tentang Matematika. Ketika siswa sudah bisa dan memenuhi anggapan saya, maka saya bisa mengatakan bahwa siswa tersebut berhasil.
Dalam hal pembentukan karakter, saya sering memperlakukan anak-anak layaknya kertas kosong. Hal-hal yang saya anggap baik, itulah yang perlu saya coretkan pada anak-anak. Saya menganggap bahwa watak mereka akan terbentuk melalui pendidikan dan pengajaran yang saya berikan.
Kedua, memandang semua siswa itu sama. Yang dimaksud adalah semua siswa harus diperlakukan sama seperti siswa lainnya dalam pembelajaran. Mengapa demikian?Karena saya dapat menyeragamkan metode pembelajaran tanpa melihat bakat dan minat siswa dan tidak perlu disibukkan dengan pengelolaan pembelajaran dalam kelas.
Ketiga, saya merasa sebagai penguasa kelas. Yang saya maksud adalah ketika pembelajaran saya mulai, siswa wajib mematuhi aturan saya dalam pembelajaran. Di sini saya merasa punya wewenang jika ada yang melanggar aturan seperti guyon dsb, saya dapat memberi hukuman kepada mereka. Keempat, fokus saya adalah mengajar. Yang saya maksud adalah saya sebagai guru tugasnya adalah mengajar saja. Menyelesaikan materi sesuai dengan ilabus dan mengejar ketuntasan belajar siswa agar mencapai KKM yang disepakati sekolah.
Setelah mempelajari Pemikiran KHD dalam modul 1.1 PGP dan diberikan pengarahan oleh asilitator, pengajar praktik dan instrutur, pandangan saya berubah 180 derajat. Anggapan ya tentang keempat hal di atas yang saya yakini selama ini adalah sebuah kekeliruan besar. Anggapan pertama bahwa yang memandang anak-anak sebagai gelas dan kertas osong bertolak belakang dengan pemikiran KHD. Dengan pandangan tersebut maka secara tidak angsung menganggap anak sebagai obyek dan saya selaku guru sebagai subyek. KHD menyatakan bahwa hidup tumbuhnya anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kita kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, manusia, dan benda hidup, sehingga mereka hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. Dengan demikian maka saya selaku pendidik anya bisa mengarahkan tumbuh kembangnya kodrat tersebut.
Selanjutnya saya memandang semua anak itu sama. Anggapan ini tentu keliru dan tidak ejalan dengan pemikiran KHD. Menurut KHD setiap anak itu istimewa adanya; mereka punya keunikan dan karakteristik tersendiri sebagai individu. Saya sebagai guru seharusnya memberi tuntunan pada anak-anak menurut minat dan potensi masing-masing. Hal ini sejalan dengan analogi dari KHD bahwa seorang petani tak akan dapat menjadikan padi yang ditanamnya itu tumbuh sebagai jagung. Selain itu, ia juga tidak dapat memelihara tanaman padi tersebut seperti hanya cara memelihara tanaman kedelai atau tanaman lainnya.
Anggapan keliru saya yang berikutnya adalah menjadikan diri saya adalah penguasa kelas. Hal ini tentu kontras dengan pandangan KHD yang harus berhamba pada anak. Berhamba pada anak berarti menaruh rasa hormat dan siap melayani kebutuhan anak dalam pembelajaran. Tentunya sebagai individu, kebutuhan belajar siswa pastinya berbeda; hamba yang baik akan selalu melayani kebutuhan tuannya sebagai pribadi yang unik dan menghormati keunikan itu.
Implikasi dari berhamba pada anak adalah pembelajaran yang guru lakukan haruslah berpusat pada siswa. Pembelajaran yang berpusat pada siswa berarti bahwa pembelajaran harus menempatkan siswa sebagai pusat dari proses belajar mengajar, sehingga akan mengembangkan minat, motivasi, dan kemampuan individu menjadi lebih aktif, kreatif dan inovatif serta bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri.
Anggapan keliru saya yang terakhir adalah fokus saya adalah mengajar. Memang benar bahwa tugas guru adalah mengajar namun menurut KHD itu belum lengkap. Tugas saya selain mengajar adalah mendidik. Mengajar hanya berfokus pada hal-hal bersifat lahiriah atau fisik sedangkan mendidik berfokus pada hal-hal yang bersifat batiniah atau mental. Selain itu mengajar hanya tertuju pada pencapaian nilai/grade sedangkan mendidik lebih diarahkan pada pengembangan nilai/value pada anak.
Setelah memahami pemikiran KHD dan menyadari kekeliruan saya, saya bertekad untuk mulai melakukan perubahan pada pembelajaran yang saya lakukan. Saya akan memberi ruang dan kebebasan pada anak-anak didik saya untuk menggali potensi mereka menurut kodratnya masing-masing. Selain itu, pembelajaran yang selama ini menjadikan saya sebagai subyek akan saya benahi menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Ya, saya tahu betul bahwa membuat perubahan tidak seperti membalik telapak tangan namun tidak ada salahnya mulai berubah dari sekarang.
Saya juga berharap sekaligus bertekat untuk menjadi seorang guru yang menjiwai semangat Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso dan Tut Wuri Handayani. Terimakasih.



